Selama lebih dari satu dekade, setiap kali harga Bitcoin meroket, para kritikus konvensional selalu mengeluarkan satu senjata usang: “Ah, ini cuma Tulip Mania abad ke-21!”
Mereka menyamakan Bitcoin dengan fenomena Dutch Tulip Mania di abad ke-17, di mana harga umbi bunga meroket gila-gilaan lalu hancur menjadi debu tak bernilai. Narasi ini terus diulang, memprediksi bahwa Bitcoin akan bernasib sama: meletus dan hilang selamanya.
Tapi hari ini, di tahun ke-17 eksistensi Bitcoin, argumen itu resmi dinyatakan “mati”.
Eric Balchunas, Analis ETF Senior dari Bloomberg—sosok yang sangat dihormati di Wall Street—baru saja memberikan pernyataan menohok. Melansir dari Cointelegraph, ia menegaskan bahwa membandingkan Bitcoin dengan Tulip Mania saat ini bukan hanya salah secara data, tapi juga intelektual yang malas.
Mari kita bedah mengapa mitos ini sudah tidak relevan lagi.
Baca juga: Polandia Blokir Regulasi Crypto
Balchunas menyoroti satu fakta sejarah yang tak terbantahkan: Durasi.
Jika kita melihat sejarah finansial di Investopedia, kegilaan Tulip Mania hanya berlangsung singkat, sekitar tahun 1634 hingga 1637 (kurang dari 3 tahun). Setelah gelembung itu pecah, harga Tulip tidak pernah pulih kembali menjadi aset spekulatif bernilai tinggi.
Bandingkan dengan Bitcoin:
“Anda tidak bisa membandingkan sesuatu yang sudah diperdagangkan aktif selama hampir dua dekade dengan sesuatu yang hanya bertahan seumur jagung,” ujar Balchunas. Dalam dunia investasi, waktu adalah validasi terbaik. Aset “bodong” tidak akan bertahan 17 tahun dengan valuasi triliunan dolar.
Apa yang membedakan Bitcoin dari gelembung aset lainnya? Jawabannya adalah Resiliensi alias daya tahan banting.
Biasanya, ketika sebuah bubble pecah—seperti saham dot-com atau subprime mortgage—aset tersebut butuh puluhan tahun untuk kembali (atau mati selamanya). Bitcoin adalah anomali. Ia memiliki kemampuan seperti Lazarus (bangkit dari kematian).
Kemampuan untuk pulih dari drawdown (penurunan) besar berkali-kali membuktikan adanya permintaan fundamental yang nyata, bukan sekadar hype sesaat.
Jika argumen sejarah belum cukup, lihatlah siapa yang memegang Bitcoin sekarang.
Era “uang mainan internet” sudah berakhir. Laporan dari CNBC menunjukkan bahwa kesuksesan ETF Bitcoin Spot (seperti milik BlackRock dan Fidelity) telah menarik miliaran dolar dana institusi.
Ini bukan lagi uang tabungan mahasiswa di basement, melainkan dana pensiun dan manajer investasi global. Adopsi institusional ini memberikan legitimasi yang tidak pernah dimiliki oleh umbi Tulip manapun di abad ke-17.
Tukang sharing hal apapun terkait dunia Bitcoin, Crypto. NFT, Defi, Metaverse dan Blockchain. Founder Duta Crypto. Tetap “DYOR”.
Perusahaan pembayaran kripto, MoonPay, baru saja melakukan manuver korporasi, Dalam upaya mengamankan pijakan regulasi yang…
Bursa kripto paling ikonik di industri aset digital, BitMEX, sang raksasa pelopor bursa derivatif yang…
Perusahaan manajemen aset global, 21Shares, kian memperluas jangkauan investasi kripto institusional di benua Eropa. Kali…
Peta kekuatan stablecoin di industri kripto baru saja mengalami pergeseran tektonik! Bursa kripto terbesar dunia,…
Euforia institusi kembali meledak! Di tengah reli kuat yang mendorong harga Bitcoin terbang tinggi, instrumen…
Penerbit stablecoin raksasa, Circle, meluncurkan gebrakan finansial besar yang siap mengubah peta likuiditas di pasar…
This website uses cookies.