Dunia cryptocurrency sering dikritik karena dianggap tidak punya nilai nyata. “Cuma kode di internet,” kata para skeptis. Namun, narasi itu mulai terpatahkan dengan munculnya sektor baru yang menghubungkan blockchain dengan benda fisik di dunia nyata.
Sektor ini disebut DePIN. Belakangan ini, investor institusi dan ritel mulai berlomba-lomba mencari tahu apa itu DePIN dalam dunia crypto karena potensinya untuk mendisrupsi industri telekomunikasi, peta digital, hingga penyimpanan data yang selama ini dikuasai raksasa teknologi.
Jika kamu bosan dengan koin yang harganya naik-turun hanya karena tweet miliarder, maka DePIN adalah sektor fundamental yang wajib kamu pelajari.
Baca juga: 35 Tokoh Raksasa Masuk Panel Inovasi Elite
Definisi Sederhana: Gotong Royong Infrastruktur
DePIN adalah singkatan dari Decentralized Physical Infrastructure Networks.
Jangan bingung dengan istilahnya. Konsepnya sederhana: Crowdsourcing Infrastruktur. Alih-alih satu perusahaan besar (seperti Telkomsel atau Google) yang membangun menara sinyal atau server mahal sendirian, DePIN mengajak orang biasa (kamu dan saya) untuk menyediakan alatnya.
Sebagai imbalan karena telah “menyewakan” alat fisik tersebut (misalnya router WiFi, sensor jalanan, atau hard disk kosong), kamu akan dibayar menggunakan token crypto.
Contoh Kasus: Uber Tanpa “Uber”
Untuk memahami mekanisme apa itu DePIN dalam dunia crypto secara mendalam, mari kita pakai analogi aplikasi ojek online.
Di sistem Uber/Grab (Web2), perusahaan pusat mengambil potongan besar (misal 20%) dari pendapatan supir. Perusahaanlah yang mengontrol peta dan datanya.
Di sistem DePIN (Web3):
- Kamu memasang alat (misalnya dashcam pemetaan jalan).
- Data jalanan yang kamu rekam akan masuk ke jaringan blockchain yang terbuka.
- Kamu dibayar langsung dengan token tanpa perantara perusahaan besar.
- Biaya operasional jadi jauh lebih murah karena tidak perlu kantor pusat yang mewah.
Proyek DePIN yang Sudah Berjalan
Ini bukan lagi sekadar teori. Sudah ada proyek raksasa yang membuktikan model ini berhasil:
- Helium (HNT): Mengubah cara kita berinternet. Orang-orang membeli hotspot Helium, memasangnya di jendela rumah, dan menyediakan sinyal untuk perangkat IoT (Internet of Things) di sekitarnya.
- Hivemapper (HONEY): Pesaing Google Maps. Pengendara memasang kamera khusus di mobil mereka untuk merekam jalanan dan mendapatkan token HONEY sebagai gaji.
- Render (RNDR): Menyewakan kekuatan kartu grafis (GPU) komputermu yang nganggur kepada artis 3D yang butuh rendering video berat.
Untuk menyelami lebih jauh tentang bagaimana teknologi ini menjembatani kesenjangan antara infrastruktur fisik dan blockchain, silahkan cek Bitcointalk.
Kenapa DePIN Akan Meledak?
Alasannya adalah Efisiensi Biaya. Membangun infrastruktur secara terdesentralisasi (patungan oleh ribuan orang) jauh lebih cepat dan murah daripada satu perusahaan membangun semuanya dari nol.
Bayangkan Google butuh 10 tahun untuk memetakan jalanan dunia dengan mobil Street View mereka. Hivemapper bisa melakukan hal yang sama dalam 2 tahun karena mereka punya ribuan “supir” di seluruh dunia yang bekerja secara bersamaan.
So, dePIN adalah bukti bahwa crypto bisa berguna untuk kehidupan sehari-hari, bukan hanya untuk spekulasi pasar. Ia memberikan hak kepemilikan infrastruktur kembali ke tangan rakyat.
Jadi, jawaban final untuk pertanyaan apa itu DePIN dalam dunia crypto adalah: Sebuah revolusi di mana kamu tidak lagi hanya menjadi pengguna pasif, tetapi menjadi pemilik dan penyedia infrastruktur internet masa depan, sambil mendapatkan bayaran pasif darinya.
Disclaimer: Segala konten di Duta Crypto ID bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan saran investasi atau nasihat keuangan. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Duta Crypto ID tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang Anda buat.

Tukang sharing hal apapun terkait dunia Bitcoin, Crypto. NFT, Defi, Metaverse dan Blockchain. Founder Duta Crypto. Tetap “DYOR”.





