Di tengah gelombang antusiasme bank-bank global yang mulai melirik Bitcoin dan aset digital sebagai lahan bisnis baru, sebuah peringatan keras datang dari “wasit” keuangan dunia.
Di saat banyak pihak terbuai dengan potensi keuntungan (cuan), Fitch Ratings—salah satu dari tiga besar lembaga pemeringkat kredit global—justru menekan tombol panik terkait besarnya risiko aset kripto bagi perbankan saat ini.
Melansir laporan dari Cointelegraph, Fitch secara eksplisit memperingatkan bahwa bank yang memiliki eksposur terlalu besar terhadap mata uang kripto berisiko mengalami pemangkasan peringkat kredit (downgrade).
Dalam bahasa sederhana: “Main kripto boleh, tapi kalau kebanyakan, ranking bank Anda bisa kami turunkan jadi ‘berisiko’.” Mari kita bedah mengapa Fitch begitu khawatir.
Baca Juga: Regulasi Aset Kripto di Sektor Perbankan Dikritik Keras Mantan Bos OCC
Bagi Fitch, aset kripto masih dianggap sebagai “barang panas”. Jika neraca bank terlalu banyak diisi oleh aset ini, stabilitas mereka dipertanyakan.
Fitch menyoroti bahwa risiko aset kripto bagi perbankan tidak hanya soal harga yang naik-turun, melainkan mencakup aspek fundamental yang lebih luas:
Peringatan Fitch ini sebenarnya sejalan dengan standar perbankan global yang sangat ketat.
Komite Basel untuk Pengawasan Perbankan (BCBS)—lembaga yang membuat aturan main bank sentral seluruh dunia—telah menetapkan standar yang sangat tinggi. Mengutip laporan dari Reuters, standar Basel mewajibkan bank untuk menerapkan bobot risiko 1.250% untuk eksposur aset kripto tertentu (seperti Bitcoin).
Artinya? Untuk setiap $1 Bitcoin yang dipegang bank, mereka harus mencadangkan modal tunai dalam jumlah yang sama ($1) penuh. Ini membuat biaya memegang kripto menjadi sangat mahal bagi bank, sebuah mekanisme “rem” alami agar bank tidak serakah.
Kenapa Fitch dan regulator begitu paranoid? Karena kita punya bukti sejarah yang masih hangat.
Fitch tidak ingin melihat terulangnya Krisis Perbankan AS 2023. Seperti yang diulas mendalam oleh Investopedia, runtuhnya bank-bank ramah kripto seperti Silvergate Bank dan Signature Bank adalah contoh nyata bahaya “risiko konsentrasi”.
Bank-bank ini runtuh bukan semata-mata karena harga kripto jatuh, tapi karena nasabah kripto mereka panik dan menarik dana secara bersamaan (bank run), menyebabkan krisis likuiditas instan yang mematikan. Fitch melihat pola ini: bank kecil dengan eksposur kripto besar adalah bom waktu.
Melihat besarnya skala risiko aset kripto bagi perbankan yang dipaparkan Fitch dan data historis kegagalan bank sebelumnya, langkah kehati-hatian ini sangatlah masuk akal. Lebih baik bank sedikit lambat dalam adopsi teknologi daripada harus runtuh karena salah langkah.
Tukang sharing hal apapun terkait dunia Bitcoin, Crypto. NFT, Defi, Metaverse dan Blockchain. Founder Duta Crypto. Tetap “DYOR”.
Bursa kripto terbesar di Amerika Serikat, Coinbase, kembali mencetak kemenangan regulasi setelah berhasil mengantongi persetujuan…
Aplikasi perpesanan instan Telegram membuat gebrakan besar di ekosistem Web3. Langkah ambisius untuk mempermudah akses…
Dalam langkah inovatif yang menyoroti tren Tokenisasi Aset Dunia Nyata (Real World Assets/RWA), bursa kripto…
Perusahaan penyedia layanan pembayaran kripto berbasis di Hong Kong, RedotPay, selangkah lebih dekat menuju lantai…
Awan hitam tengah menyelimuti salah satu platform pasar prediksi paling populer di ekosistem Web3, Polymarket.…
CoinMarketCap (CMC), melakukan manuver yang siap mengubah lanskap penyedia data analitik global. Dalam memperkokoh posisinya…
This website uses cookies.