Vitalik Buterin Dorong Integrasi AI untuk Meningkatkan Efisiensi Tata Kelola DAO

Masalah rendahnya partisipasi pengguna dalam sistem tata kelola desentralisasi alias Decentralized Autonomous Organization (DAO) menjadi perhatian utama di dunia kripto. Menanggapi hal ini, Co-founder Ethereum, Vitalik Buterin, melontarkan ide revolusioner: menggunakan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk menciptakan model tata kelola DAO yang jauh lebih efisien dan akurat.

Menurut Buterin, kehadiran asisten berbasis AI dapat membantu anggota komunitas untuk mengambil keputusan yang lebih tepat dan terinformasi, sekaligus memecahkan masalah terkait keterbatasan waktu dan perhatian manusia dalam sistem demokrasi digital.

Menembus Batas Keterbatasan Manusia di DAO

Buterin menyoroti bahwa salah satu masalah paling mendasar dalam model tata kelola terdesentralisasi seperti DAO adalah “keterbatasan atensi manusia”. Pasalnya, sering kali ada begitu banyak proposal dan keputusan teknis yang membutuhkan rentang waktu serta keahlian khusus, yang mana tidak dimiliki oleh semua anggota DAO.

Sebagai imbasnya, banyak pengguna yang memilih jalur delegasi (menyerahkan hak suaranya kepada pihak lain). Namun, Buterin mengkritik keras solusi delegasi yang biasa digunakan justru melemahkan pemberdayaan.

Faktanya, tingkat partisipasi rata-rata di berbagai DAO saat ini diperkirakan hanya berkisar antara 15% hingga 25%.

Tingkat apatis yang tinggi bisa berujung pada sentralisasi kekuatan dan bahkan memicu risiko serangan tata kelola, di mana oknum jahat diam-diam mengakuisisi token dalam jumlah besar untuk meloloskan proposal yang merugikan ekosistem tanpa disadari oleh anggota lainnya.

Asisten AI Pribadi untuk Mewakili Hak Suara

Lalu, bagaimana AI bisa mengatasi masalah ini? Buterin mengusulkan penggunaan Large Language Models (LLM) sebagai asisten pribadi yang dapat membantu pengguna.

“Jika sebuah mekanisme tata kelola menuntut Anda untuk membuat banyak sekali keputusan, asisten AI pribadi dapat mengeksekusi semua pemungutan suara. AI akan memberikan suara berdasarkan preferensi yang disimpulkan dari tulisan, riwayat percakapan, hingga pernyataan Anda sebelumnya,” jelas Buterin.

Lebih canggihnya lagi, jika asisten AI tersebut merasa ragu terhadap suatu isu yang dianggap krusial, AI tersebut akan langsung bertanya kepada pemiliknya sembari memberikan seluruh konteks atau ringkasan yang relevan terkait isu tersebut.

Baca Juga: Harga Bitcoin Turun Lagi! Indeks Ketakutan Kembali Sentuh Level Terendah

Menariknya, gagasan ini sejalan dengan penelitian yang sedang dikembangkan oleh Lane Rettig, seorang peneliti AI dan tata kelola di Near Foundation, mengungkapkan bahwa lembaganya sedang menggarap digital twins berbasis AI.

Sistem delegasi AI ini dirancang khusus untuk mewakili anggota DAO dalam melakukan voting, guna menanggulangi masalah rendahnya partisipasi pemilih.

Menjaga Privasi Data di Era AI

Meski menawarkan efisiensi tinggi, Buterin menyadari bahwa integrasi AI dalam DAO juga membawa tantangan baru, terutama terkait privasi. Dalam tata kelola yang terdesentralisasi, beberapa keputusan penting sering kali bergantung pada informasi pribadi atau sensitif misalnya dalam proses negosiasi, perselisihan internal, hingga alokasi pendanaan.

Untuk mengatasi ini, Buterin mengusulkan solusi black box. Konsepnya, pengguna mengirimkan model LLM pribadi mereka ke dalam black box tersebut. Di dalam box itu, LLM akan menganalisis informasi pribadi dan membuat penilaian berdasarkan data tersebut, lalu hanya mengeluarkan hasil keputusannya saja.

“Anda tidak melihat informasi pribadi pengguna lain, dan tidak ada seorang pun yang bisa melihat isi dari LLM pribadi Anda,” tegas Buterin.

Pendekatan ini menjamin bahwa seluruh pengguna dapat memanfaatkan lebih banyak informasi mereka sendiri tanpa takut datanya terekspos, menjadikan perlindungan privasi sebagai fondasi utama dalam evolusi tata kelola kripto di masa depan.