Sentimen risk-off kembali menghantui pasar keuangan global. Aset kripto terbesar di dunia, Bitcoin kembali terkoreksi tajam hingga menyentuh level $66.000, sementara pasar saham Amerika Serikat kehilangan momentum kenaikannya. Pemicu utamanya adalah rilis risalah pertemuan terbaru Bank Sentral AS (The Fed) yang bernada jauh lebih hawkish dari perkiraan pasar.
Dokumen risalah tersebut mengungkap bahwa beberapa pejabat The Fed masih sangat khawatir dengan inflasi, bahkan mendiskusikan opsi untuk menaikkan suku bunga acuan jika data ekonomi tidak menunjukkan pendinginan yang signifikan.
Kejutan “Hawkish” Guncang Aset Berisiko
Reaksi pasar terhadap rilis risalah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) ini sangat instan. Ketakutan akan kebijakan moneter yang lebih ketat langsung memicu aksi jual pada aset-aset berisiko tinggi.
Bitcoin, yang sempat kembali ke zona hijau, harus rela terperosok lebih dalam karena likuiditas pasar yang mengetat seiring menguatnya indeks Dolar AS (DXY) dan imbal hasil obligasi Treasury.
Baca Juga: Waspada! Scammer Kirim Surat Fisik ke Pengguna Trezor dan Ledger
Pernyataan The Fed tentang “kemungkinan kenaikan suku bunga” menjadi sinyal alarm bagi para investor yang sebelumnya optimis akan adanya pelonggaran kebijakan kini dipaksa menelan pil pahit.
Alih-alih pemangkasan suku bunga pada bulan April, pasar kini harus memperhitungkan risiko biaya pinjaman yang lebih tinggi, yang secara historis menjadi musuh utama bagi valuasi aset digital maupun saham teknologi.
Korelasi Bitcoin dan Wall Street Kembali Menguat
Penurunan Bitcoin kali ini beriringan dengan pelemahan di bursa saham Wall Street. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite keduanya ditutup di zona merah, mencerminkan kekhawatiran yang meluas di kalangan investor institusi.
Narasi bahwa Bitcoin sebagai aset pelindung nilai yang tidak berkorelasi dengan pasar tradisional kembali diuji. Jika level support di $66.000-$65.000 jebol, Bitcoin berpotensi turun lebih dalam lagi.
Tekanan jual ini diperparah oleh aksi ambil untung (profit taking) dari para pedagang jangka pendek yang panik melihat perubahan nada kebijakan The Fed yang tak terduga tersebut.
Kini, mata pelaku pasar tertuju pada rilis data ekonomi AS berikutnya. Setiap indikator yang menunjukkan inflasi masih panas kemungkinan besar akan semakin menekan harga Bitcoin dan memperpanjang tren koreksi di pasar saham.
Disclaimer: Segala konten di Duta Crypto ID bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan saran investasi atau nasihat keuangan. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Duta Crypto ID tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang Anda buat.

Penulis aktif di Duta Crypto ID. Suka sharing tentang crypto, blockchain, nft dan berita-berita yg relevan dg industri Web3.





