Pasar kripto berhadapan dengan tekanan ganda dari gejolak pasar keuangan global dan ketidakpastian regulasi. Bitcoin (BTC) mengalami penurunan ke level psikologis $63.000 di tengah merosotnya indeks saham Korea Selatan serta penundaan pembahasan regulasi aset digital (Clarity Act) di Amerika Serikat.
Dua faktor katalis utama ini langsung memicu kehati-hatian dari para pelaku pasar global menjelang pengumuman suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Saham Teknologi Korea Selatan Anjlok, Sentimen Risiko Tertekan
Pasar saham Asia terguncang hebat setelah indeks acuan Korea Selatan, Kospi, merosot hingga 11% hanya dalam kurun waktu satu hari.
Penurunan drastis ini dipicu oleh aksi lepas saham-saham sektor manufaktur semi-konduktor (chipmaker), yang kemudian menjalar dan menekan aset berisiko di tingkat internasional.
Gelombang koreksi di pasar saham tradisional ini langsung berdampak pada pergerakan pasar aset digital, membuat Bitcoin dan deretan aset kripto utama mengalami tekanan jual jangka pendek.
Baca Juga: Samsung Wallet Siap Integrasi Stablecoin
Senat AS Tunda Crypto Clarity Act Jelang Reses
Dari sisi regulasi, Senat Amerika Serikat memutuskan untuk menunda (shelve) pembahasan RUU Crypto Clarity Act.
Dengan waktu tersisa sekitar 2 minggu sebelum reses musim panas dimulai pada 8 Agustus, Senat memilih untuk memprioritaskan RUU sanksi Rusia serta penetapan nominasi pejabat federal.
Ketidakpastian seputar nasib kejelasan hukum kripto di AS ini membuat investor cenderung mengambil posisi bertahan (wait and see).
Disclaimer: Segala konten di Duta Crypto ID bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan saran investasi atau nasihat keuangan. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Duta Crypto ID tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang Anda buat.

Penulis aktif di Duta Crypto ID. Suka sharing tentang crypto, blockchain, nft dan berita-berita yg relevan dg industri Web3.





