Fitch Ratings: Risiko Aset Kripto Bagi Perbankan Bisa Picu Downgrade

Di tengah gelombang antusiasme bank-bank global yang mulai melirik Bitcoin dan aset digital sebagai lahan bisnis baru, sebuah peringatan keras datang dari “wasit” keuangan dunia.

Di saat banyak pihak terbuai dengan potensi keuntungan (cuan), Fitch Ratings—salah satu dari tiga besar lembaga pemeringkat kredit global—justru menekan tombol panik terkait besarnya risiko aset kripto bagi perbankan saat ini.

Melansir laporan dari Cointelegraph, Fitch secara eksplisit memperingatkan bahwa bank yang memiliki eksposur terlalu besar terhadap mata uang kripto berisiko mengalami pemangkasan peringkat kredit (downgrade).

Dalam bahasa sederhana: “Main kripto boleh, tapi kalau kebanyakan, ranking bank Anda bisa kami turunkan jadi ‘berisiko’.” Mari kita bedah mengapa Fitch begitu khawatir.

Baca Juga: Regulasi Aset Kripto di Sektor Perbankan Dikritik Keras Mantan Bos OCC

Mengapa Fitch Kasih “Rapor Merah”?

Bagi Fitch, aset kripto masih dianggap sebagai “barang panas”. Jika neraca bank terlalu banyak diisi oleh aset ini, stabilitas mereka dipertanyakan.

Fitch menyoroti bahwa risiko aset kripto bagi perbankan tidak hanya soal harga yang naik-turun, melainkan mencakup aspek fundamental yang lebih luas:

  1. Volatilitas Ekstrem: Harga Bitcoin bisa naik-turun 20% dalam sehari. Bagi bank yang mengutamakan stabilitas, ini adalah mimpi buruk akuntansi.
  2. Kurangnya Asuransi: Di AS, simpanan kripto tidak dijamin oleh FDIC (LPS-nya Amerika). Jika hilang, bank harus menanggung sendiri.
  3. Risiko Legal: Aturan yang masih abu-abu membuat bank rentan kena denda mendadak.

Bukan Cuma Fitch: Standar Basel Juga “Galak”

Peringatan Fitch ini sebenarnya sejalan dengan standar perbankan global yang sangat ketat.

Komite Basel untuk Pengawasan Perbankan (BCBS)—lembaga yang membuat aturan main bank sentral seluruh dunia—telah menetapkan standar yang sangat tinggi. Mengutip laporan dari Reuters, standar Basel mewajibkan bank untuk menerapkan bobot risiko 1.250% untuk eksposur aset kripto tertentu (seperti Bitcoin).

Artinya? Untuk setiap $1 Bitcoin yang dipegang bank, mereka harus mencadangkan modal tunai dalam jumlah yang sama ($1) penuh. Ini membuat biaya memegang kripto menjadi sangat mahal bagi bank, sebuah mekanisme “rem” alami agar bank tidak serakah.

Belajar dari Mayat Hidup: Trauma 2023

Kenapa Fitch dan regulator begitu paranoid? Karena kita punya bukti sejarah yang masih hangat.

Fitch tidak ingin melihat terulangnya Krisis Perbankan AS 2023. Seperti yang diulas mendalam oleh Investopedia, runtuhnya bank-bank ramah kripto seperti Silvergate Bank dan Signature Bank adalah contoh nyata bahaya “risiko konsentrasi”.

Bank-bank ini runtuh bukan semata-mata karena harga kripto jatuh, tapi karena nasabah kripto mereka panik dan menarik dana secara bersamaan (bank run), menyebabkan krisis likuiditas instan yang mematikan. Fitch melihat pola ini: bank kecil dengan eksposur kripto besar adalah bom waktu.

Melihat besarnya skala risiko aset kripto bagi perbankan yang dipaparkan Fitch dan data historis kegagalan bank sebelumnya, langkah kehati-hatian ini sangatlah masuk akal. Lebih baik bank sedikit lambat dalam adopsi teknologi daripada harus runtuh karena salah langkah.