Pernah gak sih kamu dengar temanmu bilang, “Eh, gue baru beli koin Shiba Inu nih!” atau “Token Bitcoin lagi naik tinggi banget!”? Sekilas terdengar biasa saja, tapi bagi mereka yang sudah paham teknis, kalimat itu sebenarnya kurang tepat.
Di dunia aset digital, istilah “koin” dan “token” sering kali dipakai secara bergantian alias campur aduk. Padahal, keduanya adalah dua entitas yang sangat berbeda secara fundamental. Memahami perbedaan koin dan token dalam crypto bukan cuma soal perbaikan kosa kata, tapi juga krusial untuk strategi investasi dan manajemen dompet digital (wallet) kamu.
Salah paham soal ini bisa bikin kamu bingung, misalnya saat mau kirim aset tapi ternyata salah jaringan, atau kaget kenapa biaya transaksinya harus bayar pakai aset lain. Nah, biar gak bingung lagi, yuk kita bedah perbedaannya dengan bahasa yang simpel.
Secara sederhana, Koin (atau sering disebut Native Coin) adalah aset digital yang berjalan di atas blockchain miliknya sendiri. Dia adalah “tuan rumah” atau pemilik infrastruktur.
Contoh paling gampang adalah Bitcoin (BTC). Bitcoin beroperasi di blockchain Bitcoin. Contoh lain adalah Ethereum (ETH) yang berjalan di jaringan Ethereum, atau Solana (SOL) di jaringan Solana.
Ciri-ciri utama Koin:
Nah, kalau Token, dia adalah aset digital yang “numpang hidup” di atas blockchain milik koin lain. Token tidak punya blockchain sendiri. Mereka dibuat menggunakan smart contract (kontrak pintar) pada jaringan yang sudah ada, paling sering di jaringan Ethereum (standar ERC-20).
Baca Juga: Apa Sebenarnya Bedanya Proof of Work dan Proof of Stake?
Contoh populer adalah Tether (USDT) atau Shiba Inu (SHIB). Keduanya (versi ERC-20) numpang di jalan rayanya Ethereum. Jadi, kalau kamu mau kirim token USDT tipe ERC-20, biaya gas-nya harus bayar pakai ETH, bukan pakai USDT itu sendiri.
Untuk memahami lebih dalam mengenai teknis pembuatan token ini, kamu bisa membaca referensi dari Ledger Academy yang menjelaskan secara detail bagaimana token dibangun di atas infrastruktur blockchain yang sudah ada.
Biar makin paham soal perbedaan koin dan token dalam crypto, bayangkan sebuah Mal atau Pusat Perbelanjaan.
Jadi, apa saja poin krusial yang membedakan keduanya?
So, meskipun di bursa pertukaran (exchange) keduanya terlihat sama-sama bisa diperdagangkan dan harganya naik-turun, secara teknis mereka bagaikan bumi dan langit.
Ingat aturan emasnya: Jika dia punya rumah sendiri, dia adalah Koin. Jika dia numpang di rumah orang, dia adalah Token. Dengan memahami perbedaan koin dan token dalam crypto ini, kamu sekarang tahu kenapa kamu butuh sedikit ETH di dompetmu kalau mau transaksi token-token berbasis Ethereum, atau butuh BNB kalau main di jaringan Binance Smart Chain.
Disclaimer: Segala konten di Duta Crypto ID bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan saran investasi atau nasihat keuangan. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Duta Crypto ID tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang Anda buat.
Tukang sharing hal apapun terkait dunia Bitcoin, Crypto. NFT, Defi, Metaverse dan Blockchain. Founder Duta Crypto. Tetap “DYOR”.
Agresivitas lembaga keuangan tradisional (TradFi) Wall Street dalam mengadopsi ekosistem Web3 kian tidak terbendung. Raksasa…
Raksasa perangkat lunak korporasi sekaligus pemegang aset kripto institusional terbesar di dunia, Strategy, kembali menegaskan…
Langkah ambisius Jepang untuk memosisikan dirinya sebagai salah satu pusat inovasi aset digital terkemuka di…
Pasar aset kripto kembali menunjukkan resiliensinya di tengah memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah. Aset kripto…
Tren prediction markets yang sedang meledak di panggung global kini resmi memikat salah satu raksasa…
Raksasa manajemen aset global, Franklin Templeton, kembali membuat gebrakan besar di persimpangan keuangan tradisional (TradFi)…
This website uses cookies.