Rusia Dakwa Pendiri Telegram Pavel Durov Atas Tuduhan Membantu Terorisme

Badan Keamanan Federal Rusia (FSB) secara resmi menjatuhkan dakwaan terhadap pendiri sekaligus CEO dari Telegram, Pavel Durov, atas tuduhan membantu aktivitas terorisme serta memasukkan namanya ke dalam daftar buronan internasional.

Tindakan ini mempertegas upaya pemerintah Rusia dalam memperketat kendali atas ruang digital dan platform komunikasi lintas negara.

Tuduhan FSB dan Daftar Buronan Internasional

Badan Keamanan Federal Rusia (FSB) menyatakan bahwa tindakan hukum diambil setelah Telegram gagal menghapus saluran, grup percakapan, dan bot yang diduga dimanfaatkan oleh intelijen Ukraina serta kelompok ekstremis untuk mengoordinasi aksi sabotase, teror, dan penipuan siber di Rusia.

FSB telah memproses penetapan status buronan internasional terhadap Pavel Durov berdasarkan Bagian 1.1 Pasal 205.1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Rusia yang berisi tentang pemfasilitasan kegiatan terorisme.

Jika memang terbukti bersalah, pendiri platform perpesanan tersebut berpotensi menghadapi hukuman penjara seumur hidup.

Baca Juga: BitMart Akan Tutup Setelah 9 Tahun Beroperasi

Implikasi Terhadap Kebebasan Privasi dan Ekosistem Kripto

Pavel Durov sebelumnya sempat menegaskan bahwa tuduhan yang dilayangkan otoritas Rusia merupakan rekayasa untuk menekan hak privasi serta kebebasan berpendapat pengguna internet.

Telegram, yang juga memiliki keterikatan erat dengan ekosistem aset digital melalui integrasi dompet kripto dan jaringan blockchain GRAM (TON), kini kembali berada di pusaran konflik geopolitik dan regulasi hukum ketat.

Perkembangan sengketa hukum ini tidak hanya berdampak pada operasional Telegram di kawasan Eropa Timur, tetapi menjadi perhatian serius bagi komunitas Web3 dan penggiat privasi data global.