Selain Ethereum, banyak pengguna kripto juga penasaran apa itu BNB Chain dan mengapa jaringan ini menjadi salah satu ekosistem blockchain terbesar di dunia.
BNB Chain lahir dari raksasa exchange kripto Binance, dan sejak diluncurkan telah berkembang menjadi rumah bagi ribuan aplikasi terdesentralisasi, mulai dari DeFi hingga game berbasis blockchain.
Bagi yang masih awam, artikel ini akan membahas tuntas pengertian, sosok pendiri, token native, cara kerja, hingga kegunaan BNB Chain dalam ekosistem kripto secara keseluruhan.
BNB Chain adalah ekosistem blockchain yang dirancang untuk mendukung aplikasi Web3, mulai dari decentralized finance (DeFi), NFT, gaming, hingga infrastruktur penyimpanan data terdesentralisasi.
Berbeda dari anggapan sebagian orang yang mengira BNB Chain hanyalah satu jaringan tunggal, sebenarnya BNB Chain terdiri dari beberapa komponen blockchain yang saling terhubung, yaitu BNB Smart Chain (BSC) sebagai jaringan utama untuk smart contract, opBNB sebagai solusi Layer-2 untuk transaksi yang lebih cepat dan murah, serta BNB Greenfield yang berfokus pada penyimpanan data terdesentralisasi.
Jaringan ini dikenal luas karena kompatibilitasnya dengan Ethereum Virtual Machine (EVM), yang berarti developer bisa memindahkan aplikasi berbasis Ethereum ke BNB Chain dengan penyesuaian kode yang minimal.
Kombinasi biaya transaksi rendah dan kecepatan tinggi inilah yang membuat BNB Chain menjadi pilihan populer, terutama bagi pengguna yang mencari alternatif lebih terjangkau dibanding jaringan Ethereum.
BNB Chain tidak bisa dilepaskan dari sosok Changpeng Zhao, yang lebih dikenal luas dengan inisial CZ, bersama rekannya Yi He. Keduanya mendirikan Binance pada 2017, yang kemudian tumbuh menjadi salah satu exchange kripto terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan.
Awalnya, token BNB diluncurkan sebagai token ERC-20 di atas jaringan Ethereum, digunakan sebagai alat pembayaran diskon biaya trading di platform Binance.
Namun seiring pertumbuhan ekosistem Binance yang semakin besar, tim pengembang memutuskan membangun blockchain mandiri. Jaringan bernama Binance Smart Chain resmi diluncurkan pada September 2020, sebelum akhirnya bertransformasi dan berganti nama menjadi BNB Chain untuk mencerminkan ekosistem yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada satu rantai blockchain saja.
Token native dari ekosistem ini bernama BNB, yang sebelumnya merupakan singkatan dari Binance Coin, namun kini secara resmi direpresentasikan sebagai “Build and Build” untuk mencerminkan perluasan fungsinya yang jauh melampaui sekadar token exchange.
BNB memiliki beberapa fungsi utama, di antaranya membayar biaya gas untuk setiap transaksi di jaringan BNB Smart Chain, berpartisipasi dalam staking untuk mengamankan jaringan, hingga digunakan sebagai token governance dalam pengambilan keputusan komunitas.
Salah satu karakteristik unik BNB adalah mekanisme auto-burn, yaitu proses pembakaran sebagian token secara berkala untuk mengurangi jumlah suplai yang beredar.
Total suplai awal BNB sebanyak 200 juta token, dengan target jangka panjang mengurangi suplai hingga 100 juta token melalui mekanisme burning ini, sehingga menciptakan tekanan deflasi terhadap nilai token dalam jangka panjang.
Untuk memahami apa itu BNB Chain secara lebih mendalam, penting mengetahui mekanisme konsensus yang digunakannya. BNB Smart Chain mengandalkan mekanisme bernama Proof-of-Staked Authority (PoSA), yang merupakan kombinasi antara Proof-of-Stake dan Proof-of-Authority.
Dalam sistem ini, validator dipilih berdasarkan jumlah BNB yang mereka staking serta reputasi mereka di jaringan, dengan jumlah validator aktif yang dibatasi agar proses validasi transaksi bisa berjalan lebih cepat dibanding jaringan blockchain lain yang lebih terdesentralisasi namun lebih lambat.
Karena kompatibel dengan EVM, pengguna dapat mengakses jaringan BNB Chain menggunakan dompet digital populer seperti MetaMask, cukup dengan menambahkan konfigurasi jaringan yang sesuai.
Hal ini membuat proses migrasi maupun penggunaan aplikasi terdesentralisasi menjadi jauh lebih mudah, baik bagi developer maupun pengguna baru yang sudah terbiasa dengan ekosistem Ethereum, sebagaimana dijelaskan lebih lengkap dalam artikel kami tentang apa itu Ethereum.
BNB Chain memiliki berbagai kegunaan yang membuatnya tetap relevan di tengah persaingan blockchain Layer-1 lainnya:
Meski sama-sama mendukung smart contract dan kompatibel secara teknis, BNB Chain dan Ethereum memiliki filosofi desain yang berbeda.
Ethereum lebih mengutamakan desentralisasi maksimal dengan jaringan validator yang jauh lebih banyak dan tersebar, sementara BNB Chain memilih pendekatan jumlah validator yang lebih terbatas demi mengejar kecepatan transaksi dan biaya yang lebih rendah.
Trade-off ini membuat BNB Chain sering dikritik karena dianggap lebih tersentralisasi, namun di sisi lain menjadikannya lebih efisien untuk kebutuhan transaksi volume tinggi.
Beberapa kelebihan BNB Chain antara lain biaya transaksi yang jauh lebih murah, kecepatan konfirmasi blok yang tinggi, serta ekosistem DeFi dan GameFi yang sudah sangat matang.
Namun demikian, ada pula risiko yang perlu diperhatikan, seperti tingkat desentralisasi yang lebih rendah dibanding jaringan lain, ketergantungan terhadap reputasi dan kebijakan Binance sebagai entitas utama di balik ekosistem ini, serta volatilitas harga token BNB yang tetap tinggi seperti aset kripto pada umumnya.
Untuk penjelasan resmi dan teknis lebih mendalam mengenai arsitektur jaringan ini, dokumentasi lengkap dapat diakses melalui situs resmi BNB Chain, yang menyediakan informasi terkini seputar ekosistem, developer tools, hingga tata kelola jaringan.
Pada akhirnya, memahami apa itu BNB Chain berarti memahami sebuah ekosistem blockchain yang dirancang untuk kecepatan, efisiensi biaya, serta dukungan ekosistem DeFi dan GameFi yang luas.
Digagas oleh Changpeng Zhao bersama Yi He dan didukung oleh token native bernama BNB, BNB Chain terus berkembang menjadi salah satu pemain utama dalam persaingan blockchain Layer-1 global.
Meski menawarkan keunggulan dari sisi biaya dan kecepatan, calon pengguna tetap perlu memahami trade-off dari sisi desentralisasi serta risiko volatilitas sebelum memutuskan untuk terjun lebih jauh ke dalam ekosistemnya.
Disclaimer: Segala konten di Duta Crypto ID bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan saran investasi atau nasihat keuangan. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Duta Crypto ID tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang Anda buat.
Tukang sharing hal apapun terkait dunia Bitcoin, Crypto. NFT, Defi, Metaverse dan Blockchain. Founder Duta Crypto. Tetap “DYOR”.
Di antara berbagai blockchain Layer-1 yang bersaing ketat saat ini, banyak orang mulai bertanya apa…
Ekosistem keuangan terdesentralisasi kembali bersiap menyambut peta persaingan baru. Platform perpetual DEX terkemuka, Hyperliquid, resmi…
FTX Recovery Trust, secara resmi mengumumkan jadwal pencairan dana ganti rugi tahap kelima yang akan…
Tekanan regulasi global terhadap pasar prediksi (prediction market) berbasis kripto kembali memanas. Autorité Nationale des…
Setelah Bitcoin, nama Ethereum menjadi salah satu yang paling sering dicari oleh mereka yang baru…
Peta kekuatan industri aset digital di Asia Tenggara mengalami pergeseran besar. SBI Holdings, raksasa jasa…
This website uses cookies.