Categories: Berita

Bitcoin Crash ke Level $73.000 Picu Kerugian Belum Terealisasi $2,14 Miliar bagi Strategy

Volatilitas pasar aset kripto kembali memakan korban, kali ini menyasar portofolio institusi besar. Pada perdagangan hari ini, Rabu (4/2/2026) harga Bitcoin mendadak anjlok ke level $73.000. tidak hanya membuat trader ritel panik, tetapi juga memberikan pukulan telak pada neraca keuangan perusahaan.

Laporan terbaru menyoroti besarnya dampak penurunan ini terhadap valuasi aset “Strategy”, yang kini harus menelan pil pahit berupa kerugian yang belum terealisasi (unrealized loss) dengan nilai fantastis.

Guncangan Pasar Gerus Nilai Aset

Penurunan harga Bitcoin kali ini terjadi cukup cepat, memicu likuidasi di berbagai bursa. Bagi investor institusional yang menerapkan strategi akumulasi agresif, pergerakan harga ini langsung berdampak pada nilai buku mereka.

Melansir data dari Bitcointreasuries, Average price Bitcoin dari Strategy berada di angka $76.000. Jatuhnya harga ke level $73.000 menyebabkan penyusutan nilai aset yang signifikan pada portofolio Strategy.

Meskipun level $73.000 masih tinggi jika dibandingkan siklus tahun-tahun sebelumnya, bagi entitas yang mengakumulasi di harga rata-rata yang lebih tinggi, koreksi ini adalah ujian mental yang berat.

Baca Juga: Tom Lee Ungkap Penyebab Lesunya Ethereum: Metals Vortex dan Minim Leverage

Floating Loss $2,14 Miliar: Angka yang Bikin Merinding

Data on-chain dan laporan keuangan memperlihatkan skala kerugian yang mencengangkan. Akibat crash ini, portofolio Strategy mencatatkan floating loss sebesar $2,14 Miliar.

Penting untuk dicatat bahwa ini adalah kerugian kertas, yang artinya kerugian tersebut belum menjadi nyata selama aset Bitcoin mereka tidak dijual.

Meskipun angka kerugian ini terlihat menakutkan bagi investor awam, strategi “Diamond Hands” atau menahan aset dalam jangka panjang kemungkinan besar akan tetap dipertahankan.

Institusi sekelas Strategy memiliki pandangan makro bahwa volatilitas adalah hadiah dari Satoshi. Sebuah gangguan sementara menuju valuasi Bitcoin yang lebih tinggi di masa depan.

Apakah Akan Ada Panic Selling?

Sejarah mencatat institusi besar cenderung memanfaatkan momen crash seperti ini untuk melakukan buy the dip untuk menurunkan harga rata-rata pembelian mereka, alih-alih melakukan panic selling.

Namun, investor tetap disarankan untuk memantau pergerakan pasar dengan hati-hati mengingat situasi makroekonomi yang masih belum menentu.

Recent Posts

Franklin Templeton Resmi Luncurkan Divisi Kripto Khusus Pasca Akuisisi 250 Digital

Agresivitas lembaga keuangan tradisional (TradFi) Wall Street dalam mengadopsi ekosistem Web3 kian tidak terbendung. Raksasa…

16 hours ago

Strategi Pantang Mundur Michael Saylor: Strategy Kembali Borong Bitcoin di Tengah Penurunan Saham STRC

Raksasa perangkat lunak korporasi sekaligus pemegang aset kripto institusional terbesar di dunia, Strategy, kembali menegaskan…

2 days ago

Dana Pensiun Korporasi Jepang Mulai Masuk Kripto, Regulasi Jadi Katalis Utama

Langkah ambisius Jepang untuk memosisikan dirinya sebagai salah satu pusat inovasi aset digital terkemuka di…

2 days ago

Bitcoin Bertahan di Level $64.000: Isu Selat Hormuz Warnai Dialog AS-Iran

Pasar aset kripto kembali menunjukkan resiliensinya di tengah memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah. Aset kripto…

2 days ago

Charles Schwab Masuk Pasar Prediksi, Gandeng Cboe Siapkan Taruhan S&P 500

Tren prediction markets yang sedang meledak di panggung global kini resmi memikat salah satu raksasa…

3 days ago

Franklin Templeton Ajukan ETF Unik: Ubah Dividen Saham Jadi Bitcoin!

Raksasa manajemen aset global, Franklin Templeton, kembali membuat gebrakan besar di persimpangan keuangan tradisional (TradFi)…

4 days ago

This website uses cookies.