Dalam dunia keamanan siber, tidak ada sistem yang 100% aman. Bahkan Pentagon pun bisa diretas. Namun, teknologi blockchain hadir dengan klaim keamanan yang revolusioner: Immutable (tidak bisa diubah) dan Decentralized (tersebar).
Klaim ini sering membuat pemula bingung. Jika teknologinya begitu canggih, kenapa kita sering mendengar berita bursa kripto kebobolan triliunan rupiah? Untuk memahami paradoks ini, pertanyaan mendasar seperti apakah blockchain bisa di-hack? harus dijawab dengan membedah lapisan teknologinya, bukan hanya melihat judul berita.
Jawabannya tidak sesederhana “Ya” atau “Tidak”. Mari kita masuk ke ruang mesinnya.
Baca juga: Bursa Bithumb Distribusikan 620.000 Bitcoin ke Pengguna
Secara teori, memanipulasi data transaksi yang sudah tercatat di blockchain utama (seperti Bitcoin atau Ethereum) adalah hal yang nyaris mustahil.
Setiap blok data saling terkunci dengan blok sebelumnya menggunakan kriptografi (matematika rumit). Jika seorang hacker ingin mengubah satu transaksi di masa lalu (misalnya: membatalkan transfer Bitcoin), ia harus mengubah seluruh blok setelahnya di ribuan komputer di seluruh dunia secara bersamaan.
Inilah yang disebut Serangan 51% (51% Attack). Secara teknis, jawaban dari pertanyaan apakah blockchain bisa di-hack? adalah BISA, tetapi hanya jika si peretas menguasai lebih dari 50% kekuatan komputasi (hashrate) seluruh jaringan.
Untuk jaringan raksasa seperti Bitcoin, biaya listrik dan perangkat keras untuk melakukan serangan ini bisa mencapai miliaran dolar per jam. Sangat tidak masuk akal secara ekonomi. Jadi, “Hacking Blockchain Bitcoin” itu mitos, karena biayanya lebih mahal daripada hasil curiannya.
Jika blockchain utamanya aman, lalu kenapa ada berita peretasan? Biasanya, yang diretas bukanlah Blockchain-nya (Lapis 1), melainkan aplikasi yang dibangun di atasnya (Smart Contract atau Bridge).
Ibarat bank: Brankas besinya (Blockchain) sangat kuat dan tidak bisa ditembus. Tapi, jika teller bank lupa mengunci pintu depan atau memberikan kunci kepada orang asing, perampok tetap bisa masuk.
Untuk memahami lebih dalam mengenai mekanisme serangan 51% yang menjadi satu-satunya ancaman teoritis bagi blockchain, Investopedia menjelaskan secara detail bagaimana serangan mayoritas bekerja. Artikel dari sumber finansial terpercaya ini sangat penting untuk kamu baca agar paham betapa mahalnya “biaya” untuk meretas jaringan yang matang.
Seringkali, jawaban dari “kebobolan” bukan karena teknologi canggih, melainkan kelalaian manusia.
Dalam kasus ini, blockchain-nya tetap aman, sistemnya bekerja sempurna. Yang diretas adalah kamu, bukan teknologinya.
Jadi, kita harus adil dalam menilai. Blockchain sebagai buku besar (ledger) adalah salah satu benteng pertahanan data terkuat yang pernah diciptakan manusia. Namun, ekosistem di sekitarnya (aplikasi, dompet, bursa) masih memiliki celah.
Kesimpulannya, mengenai apakah blockchain bisa di-hack? jawabannya adalah: Jaringan intinya sangat sulit (hampir mustahil) di-hack, tetapi aplikasi dan kelalaian manusianya sangat mudah dieksploitasi.
Jangan salahkan brankasnya jika kamu meninggalkan kuncinya di atas meja warung kopi. Tetap waspada dan jaga kunci rahasiamu!
Disclaimer: Segala konten di Duta Crypto ID bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan saran investasi atau nasihat keuangan. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Duta Crypto ID tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang Anda buat.
Tukang sharing hal apapun terkait dunia Bitcoin, Crypto. NFT, Defi, Metaverse dan Blockchain. Founder Duta Crypto. Tetap “DYOR”.
Agresivitas lembaga keuangan tradisional (TradFi) Wall Street dalam mengadopsi ekosistem Web3 kian tidak terbendung. Raksasa…
Raksasa perangkat lunak korporasi sekaligus pemegang aset kripto institusional terbesar di dunia, Strategy, kembali menegaskan…
Langkah ambisius Jepang untuk memosisikan dirinya sebagai salah satu pusat inovasi aset digital terkemuka di…
Pasar aset kripto kembali menunjukkan resiliensinya di tengah memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah. Aset kripto…
Tren prediction markets yang sedang meledak di panggung global kini resmi memikat salah satu raksasa…
Raksasa manajemen aset global, Franklin Templeton, kembali membuat gebrakan besar di persimpangan keuangan tradisional (TradFi)…
This website uses cookies.