Categories: Berita

Jam Trading Bursa Saham Amerika 24 Jam: Solusi Gap ETF Bitcoin?

Pernahkah kamu mengalami “horor pagi hari” ini: Kamu tidur nyenyak saat harga Bitcoin stabil di $95.000. Begitu bangun pagi dan cek HP, ternyata harga Bitcoin sudah terbang ke $100.000 atau malah longsor dalam!

Bagi pemegang aset kripto asli di Binance atau Indodax, kamu bisa bereaksi detik itu juga. Tapi bagi pemegang ETF Bitcoin Spot (seperti IBIT atau FBTC), kamu cuma bisa gigit jari menunggu pasar saham AS buka jam 9.30 pagi waktu New York (malam hari di Indonesia).

Kondisi inilah yang membuat banyak investor, terutama di Asia, memimpikan adanya jam trading bursa saham Amerika 24 jam agar tidak perlu lagi cemas memikirkan aset mereka saat bursa tutup.

Inilah yang disebut “Gap Risiko”. Kesenjangan ini memaksa industri keuangan tradisional berbenah. Kabar terbaru menyebutkan bahwa bursa saham terbesar di dunia pun mulai “gerah” dan ingin mengubah aturan main.

Mari kita bedah fenomena ini dan solusi radikal yang sedang disiapkan.

Baca Juga: Risiko Aset Kripto Bagi Perbankan Bisa Picu Downgrade

Fenomena “The Night Effect”: Aksi Justru Terjadi Saat AS Tidur

Banyak investor pemula mengira pergerakan harga terbesar terjadi saat bursa Wall Street buka. Faktanya? Salah besar.

Melansir laporan dari Cointelegraph, data menunjukkan bahwa volatilitas dan pergerakan harga Bitcoin yang signifikan sering kali terjadi di luar jam perdagangan AS (overnight).

  • Penyebab: Bitcoin adalah aset global. Saat Wall Street tidur, pasar Asia (Tokyo, Seoul, Hong Kong) dan Eropa (London) sedang aktif-aktifnya melakukan transaksi besar.
  • Dampaknya: ETF sering mengalami gap harga yang ekstrem saat pembukaan.

Fenomena ini dikenal sebagai “The Night Effect”. Riset dari ETF.com bahkan menunjukkan bahwa untuk beberapa aset, memegang posisi di malam hari (overnight) secara historis memberikan imbal hasil yang lebih baik daripada hanya trading di siang hari.

Gebrakan NYSE: Langkah Awal Menuju Bursa 24 Jam

Menyadari ketertinggalan ini, Bursa Efek New York (NYSE) tidak tinggal diam. Mereka sadar bahwa membatasi aset 24/7 (Bitcoin) ke dalam jam kerja “kantoran” adalah hal yang konyol.

Dalam langkah bersejarah, NYSE Arca (bursa tempat banyak ETF Bitcoin diperdagangkan) baru-baru ini mengajukan proposal ke regulator untuk memperpanjang jam perdagangan menjadi 22 jam sehari.

Dikutip dari berita CNBC, NYSE berencana mengizinkan perdagangan saham dan ETF mulai pukul 01:30 dini hari hingga 23:30 malam (Waktu Timur AS). Ini adalah langkah konkret pertama yang membawa Wall Street mendekati sistem jam trading bursa saham Amerika 24 jam yang sesungguhnya.

  • Tujuannya: Memberikan fleksibilitas kepada investor global (termasuk kita di Indonesia) untuk bereaksi terhadap berita pasar secara real-time.

Dilema Likuiditas: Pedang Bermata Dua

Meskipun terdengar seperti surga bagi trader, perdagangan “Afterdark” atau extended hours ini memiliki risiko tersendiri.

Likuiditas di jam-jam sepi (seperti jam 3 pagi waktu New York) biasanya jauh lebih tipis dibandingkan jam reguler. Ini berarti spread (selisih harga jual-beli) bisa melebar drastis. Kamu mungkin bisa menjual ETF kamu saat itu juga, tapi mungkin dengan harga yang kurang bagus.

Namun, bagi banyak investor institusi, kemampuan untuk melakukan hedging (lindung nilai) saat terjadi krisis di malam hari jauh lebih berharga daripada biaya spread tersebut.

Bagi kamu investor ETF, bersiaplah. Di masa depan, impian tentang jam trading bursa saham Amerika 24 jam sepertinya bukan lagi hal mustahil. Portofolio saham dan ETF kamu mungkin akan bergerak seaktif pasar kripto. Tidak ada lagi kata “tidur nyenyak” bagi trader, tapi peluang cuan (dan risiko) akan terbuka jauh lebih lebar.

Recent Posts

Franklin Templeton Resmi Luncurkan Divisi Kripto Khusus Pasca Akuisisi 250 Digital

Agresivitas lembaga keuangan tradisional (TradFi) Wall Street dalam mengadopsi ekosistem Web3 kian tidak terbendung. Raksasa…

13 hours ago

Strategi Pantang Mundur Michael Saylor: Strategy Kembali Borong Bitcoin di Tengah Penurunan Saham STRC

Raksasa perangkat lunak korporasi sekaligus pemegang aset kripto institusional terbesar di dunia, Strategy, kembali menegaskan…

1 day ago

Dana Pensiun Korporasi Jepang Mulai Masuk Kripto, Regulasi Jadi Katalis Utama

Langkah ambisius Jepang untuk memosisikan dirinya sebagai salah satu pusat inovasi aset digital terkemuka di…

1 day ago

Bitcoin Bertahan di Level $64.000: Isu Selat Hormuz Warnai Dialog AS-Iran

Pasar aset kripto kembali menunjukkan resiliensinya di tengah memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah. Aset kripto…

2 days ago

Charles Schwab Masuk Pasar Prediksi, Gandeng Cboe Siapkan Taruhan S&P 500

Tren prediction markets yang sedang meledak di panggung global kini resmi memikat salah satu raksasa…

3 days ago

Franklin Templeton Ajukan ETF Unik: Ubah Dividen Saham Jadi Bitcoin!

Raksasa manajemen aset global, Franklin Templeton, kembali membuat gebrakan besar di persimpangan keuangan tradisional (TradFi)…

4 days ago

This website uses cookies.