Pendiri dan CEO Telegram, Pavel Durov, akhirnya angkat bicara setelah Rusia secara resmi menetapkan dirinya sebagai “teroris”. Durov menegaskan bahwa penetapan status tersebut merupakan bentuk pembalasan karena menolak tuntutan pemerintah Rusia untuk melakukan pengawasan massal dan sensor di platform Telegram.
Melalui unggahan X pribadinya, Durov membeberkan fakta di balik ketegangan terbarunya dengan Kremlin. Ia menyatakan bahwa hukum Rusia telah melarangnya “mempublikasikan informasi di Internet”.
Merespons hal tersebut, Durov dengan nada menyindir menyebut bahwa para pejabat Rusia tampaknya kebingungan mengenai siapa yang sebenarnya memiliki kuasa untuk melarang siapa di dunia maya.
Pernyataan ini muncul setelah Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menuduh dirinya telah memfasilitasi aktivitas teroris. FSB mengklaim bahwa Telegram menghapus sejumlah saluran dan bot yang diduga kuat digunakan oleh kelompok ekstremis serta badan intelijen Ukraina.
Tuduhan terhadap Pavel Durov di Rusia ini merupakan kelanjutan dari investigasi kriminal yang telah diluncurkan sejak Februari lalu.
Saat itu, regulator setempat menuding Telegram membiarkan hampir 155.000 saluran dan obrolan tetap daring, meskipun dianggap melanggar undang-undang Rusia terkait konten ekstremisme, terorisme, dan perdagangan obat-obatan terlarang.
Namun, tantangan hukum yang dihadapi Pavel Durov tidak hanya terbatas di Rusia, Durov juga tengah menghadapi rentetan tekanan regulasi di kancah internasional. Pada Agustus 2024, ia sempat ditangkap di Prancis atas tuduhan gagal memoderasi konten ilegal secara memadai.
Baca Juga: Pajak Kripto Korea Selatan Resmi Berlaku Mulai Tahun 2027
Penangkapan tersebut memicu reaksi keras, termasuk kampanye dari TON Community yang berhasil mengumpulkan lebih dari 9 juta tanda tangan petisi untuk mendesak pembebasann.
Meski otoritas Prancis pada akhirnya mengizinkan Durov kembali ke Dubai pada Maret 2025, pengawasan global terhadap Telegram belum mereda. Baru-baru ini, regulator Australia juga memulai proses dengan tuduhan sama terkait kegagalan platform dalam menghapus konten bermuatan terorisme.
Di tengah gempuran regulasi ini, Pavel Durov tetap memposisikan dirinya sebagai pembela kebebasan berpendapat dan privasi digital, memperingatkan bahwa tuntutan dari pemerintah akan menjadi preseden buruk bagi masa depan internet yang bebas.
Disclaimer: Segala konten di Duta Crypto ID bersifat informatif dan edukatif, bukan merupakan saran investasi atau nasihat keuangan. Selalu lakukan riset mandiri (DYOR) sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Duta Crypto ID tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang Anda buat.
Penulis aktif di Duta Crypto ID. Suka sharing tentang crypto, blockchain, nft dan berita-berita yg relevan dg industri Web3.
Sektor decentralized exchange (DEX) membuktikan dominasinya di pasar kripto. Kali ini, sorotan utama tertuju pada…
Tren hibrida antara pasar saham tradisional dan mekanisme trading Web3 di Amerika Serikat semakin memanas!…
Inovasi di dunia trading derivatif Amerika Serikat sepertinya akan segera memasuki era baru yang radikal.…
Drama regulasi pasar kripto di Amerika Serikat memasuki babak baru yang semakin menegangkan. Setelah Rancangan…
Lanskap pembayaran berbasis aset digital (kripto) di kawasan Asia Tenggara semakin memanas. Kali ini, angin…
Pasar derivatif kripto di Amerika Serikat bersiap menyambut revolusi besar. Payward, perusahaan induk bursa kripto…
This website uses cookies.